WOIIIY, GILIRAN SIAPA CUCI PIRING NIIIH??

Ayah Bunda, terutama yang di rumahnya gak punya ART, pernah gak mengalami, saat baru saja tiba di rumah setelah sekian jam menembus kemacetan, disambut oleh tumpukan piring dan gelas kotor di dapur?
Atau, tiba-tiba sadar, debu di lantai rumah sudah menjulang sekian meter???
Ngeselin kan ya...

Kalau ada ART sih gampang ya, tinggal panggil, beres deh.
Tapi kalau gak ada ART ? Mau gak mau, secapek apapun, tetap Ayah Bunda lagi yang harus turun tangan. (Biasanya terutama Bunda siih)

Sebenarnya, keruwetan tersebut bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan, dengan melibatkan seluruh anggota keluarga dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, termasuk anak-anak.
Tentunya dengan memberikan tanggung jawab yang sesuai dengan umur mereka, dan sebaiknya tidak dibedakan bedakan berdasarkan "ini pekerjaan laki-laki, ini pekerjaan perempuan".


Karena, baik anak laki-laki atau perempuan, sama-sama harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, minimal yang paling mendasar lah, seperti cuci piring, menyapu, mengepel, membereskan kamar sendiri. Sukur-sukur bisa menjalankan mesin cuci dan masak juga, biarpun cuma masak nasi pakai magicom, bikin mie instan, atau goreng telur.

Percaya deh Ayah Bunda, bagi anak-anak, bahkan balita sekalipun, pekerjaan rumah tangga itu sebenarnya sangat menarik. Sering kan kita lihat, balita yang bahkan jalan aja belum lancar, begitu semangat ikut menyapu lantai, heboh ingin ikut mencuci piring atau pakaian, atau ingin ikut membantu memasak.
Bagi mereka, selain terlihat mengasyikan, dengan ikut "bekerja", akan menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap kemampuan mereka.

Saya sendiri sudah merasakan betul manfaat dari mengenalkan dan membiasakan si Sulung dengan pekerjaan rumah tangga sejak kecil.

Ketika saya ngidam parah di bulan-bulan awal hamil si Bungsu, Si Sulung yang saat itu masih kelas 3 SD sudah bisa saya andalkan untuk membuat teh manis panas saat rasa mual menyerang hebat.
Lalu saat saya sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan ART harian mendadak menghilang, Si Sulung mengambil alih tugas memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci, memasak nasi, dan membuat telur dadar untuk makan malam.
Semua dilakukan Si Sulung dengan senang hati, bahkan bangga, bahwa dia "sudah besar, sudah bisa masak buat mamah sama adek bayi".
Waktu itu belum ada Go Food siih 😅.

Sayangnya, justru kita sebagai orang tua, yang lebih sering mematikan ketertarikan bahkan semangat mereka, dengan alasan "kurang bersih", " duuh malah jadi tambah kotor/berantakan", atau "buru-buru niiih".
Belum lagi campur tangan orang ketiga, biasanya nenek atau kakek, yang karena saking sayangnya pada sang cucu, tidak ingin cucunya "kecapean", "kotor", atau "kasian ah, belum waktunya" 😁.

Tapi yakinlah Ayah Bunda, dengan sedikit "tega" dan mengeraskan hati, maka membiasakan anak-anak ikut bertanggung jawab pada pekerjaan rumah, kelak akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat bagi anak-anak kita.

Karena sesungguhnya salah satu tugas orang tua adalah mempersiapkan anak-anak untuk "melangkah" meninggalkan rumah dan berpisah dengan orang tuanya.
Sehingga kita harus memberikan "bekal" yang cukup agar anak mampu disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab.

Ilmu yang kita berikan dan keterampilan yang kita ajarkan, insyaa Allah, adalah bekal terbaik dari kita sebagai orang tua untuk anak-anak kita.

Dan suatu ketika, kita akan meninggalkan mereka, jangan mainkan semua peran - Elly Risman


Jadi, giliran siapa cuci piring hari ini ???


#see you in another story ❤&☕

Ilustrasi : freepik.com

2 Komentar untuk "WOIIIY, GILIRAN SIAPA CUCI PIRING NIIIH??"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel