RANKING BERAPA ANAKNYA, PAK, BU ?

nilai


Liburan udah mau selesai ya? Anak-anak sekolah semua sudah terima raport pastinya.
Gimana, apakah nilai dan rankingnya memuaskan?
Ehm.. terutama, apakah memuaskan bagi ayah bunda???
Puas atau gak, simak dulu yuk "kisah" di bawah ini.
Kisah yang berawal dari postingan Winardi Abu Faqih di Facebook, dan sudah cukup lama beredar di dunia maya. Juga sudah diposting ulang entah berapa ribu netizen di berbagai akun media sosial.
Saya menemukannya lagi di akun Instagram @icampusindonesia.

Anakku ranking ke-23...

Di kelasnya ada 25 orang murid, setiap kenaikan kelas, anak perempuanku selalu mendapat ranking ke 23. Lambat laun ia dijuluki dengan nomor panggilan ini.
Sebagai orang tua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar. Tapi anehnya anak kami merasa tidak keberatan.

Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan masing-masing.
Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar.
Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek, bahkan presiden. Semua orang pun bertepuk tangan. Tapi anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya

Didesak orang banyak, akhirnya dia menjawab "Saat dewasa, cita-citaku yang pertama, adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari, lalu bermain-main."

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua.
Dia pun menjawab, "Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku, dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang".

Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Nampak raut muka isteriku pun terlihat canggung sekali.

Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya.

Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia seringkali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan, merapikan kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar, atau mengelap wadah sayuran yang meluap keluar. Dia sibuk sekali bagi seorang pengurus rumah tangga cilik. 

Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa Inggris,  berebut sebuah kue. Tiada seorangpun mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil. Terakhir, anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai.

Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. 
Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas berbentuk hewan masing-masing, dan mereka terlihat begitu gembira. 

Selepas ujian semester, aku menerima telepon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar jika ranking sekolah anakku tetap 23.
Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi.
Hal yang pertama kali dia temukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.

Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan. Dalam soal itu tertera : 
SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI DAN APA ALASANNYA?
Dan jawaban dari SEMUA teman sekelasnya sama, tak ada satu pun yang berbeda.
Mereka serentak menuliskan nama anakku.

Mereka bilang, karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi.
Si wali kelas memberi pujian, "Anak Bapak ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu".

Tak berselang lama aku mencandai anakku dan berkata, "Suatu saat kamu akan jadi pahlawan".
Anakku yang sedang merajut syal tiba-tiba menjawab, "Bu Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan. Ayah...Aku tidak mau jadi pahlawan, aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan saja".

Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku.

Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, jadi orang-orang hebat, atau orang terkenal. Namun anakku memilih menjadi orang yang tidak "terlihat". Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi dialah yang mengokohkan, dialah yang memberi makan, dan dialah yang memelihara kehidupan yang lain.

Sahabatku, hidup itu bukan semata-mata untuk menunjukkan siapa yang paling penting, siapa yang paling berperan, atau siapa yang paling hebat. Tapi sederhana saja, siapa yang paling BERMANFAAT bagi yang lain.

~

Sepertinya latar belakang kisah di atas, mewakili mindset banyaaaaak ayah bunda di Indonesia. Bahwa anak yang berhasil itu yang nilai raportnya dan rankingnya bagus. Betul apa betul ? 😁
Begitu kuat mindset itu tertanam di masyarakat kita, sehingga membuat ayah bunda nyaris tidak bisa melihat lagi, bahwa untuk "menilai" sang anak, masih ada buanyak hal lain di luar nilai raport dan ranking sekolah.

Bukan berarti nilai raport yang kurang itu otomatis menjadi baik dan gak apa-apa, atau nilai jelek biarin aja..ya gak gitu juga.
Tapiiii, jangan jadikan nilai raport dan ranking itu jadi satu2nya poin dalam "menilai" anak ayah bunda (ataupun anak orang lain πŸ˜…).

Jadikan nilai raport dan ranking itu sebagai salah satu motivasi anak, bukan satu2nya motivasi, agar dalam diri mereka tumbuh keinginan dan kemauan untuk menjadi lebih baik, dalam hal apapun. Sekaligus menumbuhkan semangat mereka untuk terus berusaha mencapai keinginan tersebut.

Warning !!!
Motivasi dan kata-kata penyemangatnya disampaikan dengan cara yang baik tapinya ya, karena penyampaian yang kurang tepat, bisa jadi malah bikin anak down bahkan hilang pede-nya.
Waspadalah, waspadalah...😎

Jadi, plis stop menjadikan nilai raport dan ranking anak sebagai poin untuk menilai keberhasilan anak ayah bunda, matikan mode auto-komen negatif saat melihat nilai raport dan ranking anak yang di mata ayah bunda terlihat kurang memuaskan (ego) ayah bunda sebagai orang tua.

Buka mata, telinga, dan hati ayah bunda, agar bisa melihat, mendengar, dan menerima kelebihan-kelebihan lain sang anak, yang saya yakin, luar biasa banyaknya. Lihat, dorong, dan hargai setiap usaha mereka. 

Karena setiap anak terlahir istimewa.

Kemon Ayah Bunda, yuk jadi motivator terbaik bagi anak kita 😍

#see you in another story ❤&☕

7 Komentar untuk "RANKING BERAPA ANAKNYA, PAK, BU ?"

  1. Betul ini mom...anak-anak kita dilahirkan pasti punya kelebihan..yuk jangan hanya melihat kekurangannya..ayo push liat kelebihannya disisi lain anak-anak kita

    BalasHapus
  2. Mungkin p anton & p nova nih dan dukungan kita semua...untuk bikin workshop untuk anak2 kita..mungkin acara motivasi boleh jg tuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pan hanya sekre pak... bagian nulis surat pengantar saja...:-D

      Hapus
  3. wah iya, kemon pak Nova, Karang Taruna Taman Bunganya dihidupkan lagi. Manfaatin momen agustusan nanti..mumpung masih libur sekolah

    BalasHapus
  4. setuju....karena yang namanya ahli tidak harus dalam segala bidang, istilahnya mana ada nanam pisang bibit unggul yang kita harapkan buahnya nanti rambutan, pisang, melon yaa kan...nilai bukan segalanya..lebih penting membentuk karakter dan akhlak

    BalasHapus
  5. Mmmm.....tulisan kali ini cukup Panjang dan membuat Haru.πŸ˜‚πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜‚.Mantap.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel