KETIKA ALAMAT PALSU BUKAN HANYA MILIK AYU TINGTING



KETIKA ALAMAT PALSU BUKAN HANYA MILIK AYU TINGTING

Ke mana, ke mana, ke manaaaaa
Ku harus mencari ke manaaa πŸ’ƒ

Hayooo, siapa yang auto nyanyi pas baca dua kalimat di atas??? 😁

Alamat Palsu adalah lagu yang menjadi awal kepopuleran Ayu Tingting di dunia musik dangdut Indonesia setelah lagu tersebut meledak di pasaran sekitar pertengahan tahun 2011
Irama lagu yang easy listening, dan lirik yang mudah dihafal, membuat lagu Alamat Palsu dengan cepat dikenali dan diterima oleh masyarakat.

Tapi fenomena alamat palsu yang marak sejak beberapa waktu yang lalu, tidak ada hubungannya dengan lagu yang berhasil mengantarkan Ayu Tingting meraih penghargaan Klik! Awards 2011 tersebut.
Kalo kata peribahasa sih, Jaka Sembung melempar sauh, gak nyambung, jauuuuh

Kali ini, alamat palsu justru terkenal akibat diterapkannya sistem zonasi pada PPDB tingkat SMP dan SMA di Indonesia.


Hal ini terjadi karena banyak siswa dan orang tua siswa yang berharap bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah-sekolah favorit, tapi sayangnya berada di luar zonasi tempat tinggal mereka.
Tentu saja ini membuat calon siswa dan orang tua harus mencari jalan agar bisa tetap diterima di sekolah impian.

Salah satu cara yang ditempuh, adalah dengan melakukan "modifikasi" pada Kartu Keluarga, agar alamat domisili yang tercantum, terletak sedekat mungkin dengan sekolah tujuan. Baik dengan membuat KK baru dengan status "menumpang alamat" ataupun menitipkan nama anak pada Kartu Keluarga saudara atau teman yang memang berdomisili dekat dengan sekolah tujuan.

Pada awalnya, tidak banyak yang menempuh cara ini. Kartu Keluarga baru pun masih bisa dibuat secara mendadak.
Tapi pada tahun berikutnya, trik ini sudah menjadi rahasia umum.
Sehingga akhirnya keluar aturan, bahwa Kartu Keluarga yang bisa dipakai untuk diproses dalam PPDB, adalah Kartu Keluarga yang pada saat digunakan untuk mendaftar, sudah terbit minimal setahun sebelumnya.

Hal ini tetap tidak menyurutkan semangat orang tua calon siswa untuk "berjuang" mendapatkan kursi di sekolah favorit untuk buah hatinya.

Sayangnya, banyak orang tua yang memilih mewujudkan "semangat berjuang" tersebut dengan cara menempuh "jalan pintas" lainnya.  Antara lain dengan memanfaatkan praktik jual beli "kursi" yang ditawarkan oleh oknum-oknum dari sekolah-sekolah favorit. Sehingga akhirnya pemerintah pun turun tangan, dan puncaknya, terjadi mutasi kepala sekolah dari beberapa sekolah favorit karena terbukti melakukan jual beli "kursi" di sekolah yang dipimpinnya.

Berhenti sampai di situ? Hohoho, tidak semudah itu Marimar...
Sepertinya, prinsip "peraturan ada untuk dilanggar" memang sudah berakar cukup kuat ya di masyarakat kita πŸ˜…

Upaya pemerintah untuk memperbaiki sistem PPDB pun, ternyata diikuti oleh upaya orang tua calon siswa untuk mencari celah dari peraturan yang ada agar putra-putrinya bisa lolos dengan mudah.
#kan kata pak Ustadz kalo usaha harus istiqomah..
ya gak gitu juga keleus πŸ˜‘

Pada PPDB tahun ini, aturan zonasi kembali mengalami perubahan yang dianggap cukup merepotkan calon, karena kuota penerimaan siswa melalui jalur zonasi dicadangkan sebesar 50%. Kemudian diubah lagi menjadi 90%.

Dengan sistem yang masih dianggap menyulitkan pendaftar, tidak mengherankan bila pada prosesnya, banyak ditemukan kembali kejanggalan pada data peserta didik, terutama yang berkaitan dengan domisili.

Di salah satu kota, ditemukan 8 orang calon siswa berada pada satu Kartu Keluarga, yang setelah ditelusuri, alamat yang tercantum pada Kartu Kekuarga tersebut adalah alamat penjaga sekolah di sekolah tujuan, yang memang rumahnya menempel pada bangunan sekolah.
Ya iyyalah poin zonasinya 100% πŸ˜‚
Saya gak tahu, gimana ending dari 8 calon siswa tersebut, males ngikutin beritanya lagi.

Bahkan salah satu postingan  Instagram gubernur Jawa Baratpun tahun ini disebu pertanyaan oleh netizen, berkaitan dengan diterimanya sang puteri bungsu di salah satu sekolah favorit di Bandung.

Menurut netizen, dari jarak alamat rumah manapun, baik rumah pribadi maupun rumah dinas, seharusnya sang putri tidak lolos masuk sekolah favorit tersebut.
Ada juga yang berargumen, dari jarak alamat rumah dinas memang bisa lolos, tapi, apakah sang putri sudah resmi pindah domisili dan berubah Kartu Keluarganya?

Lagi-lagi saya tidak mengikuti secara detail, apakah pak Gubernur merespon komentar-komentar netizen atau tidak.
hehe, alasannya sama, males ngikutin beritanya πŸ˜…

Apapun peristiwa yang terjadi di PPDB tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya, semoga bisa diambil hikmahnya oleh semua pihak terkait.
Agar mulai tahun depan PPDB SMP dan SMA  semakin baik, memudahkan calon siswa maupun orang tua dan tentunya membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, aamiin.

Jadi, bagaimana nih, adakah yang tahun depan putra-putrinya lulus SD atau SMP?
Sudah siap untuk dagdigdug serrr di akhir tahun ajaran 😁

tegangnya nanti ajalah ya, mending nyanyi dulu aja sekarang mah
goyang maaaaangng πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ



#see you in another story ❤&☕
Sumber foto cover : freepik.com dengan modifikasi
Sumber foto : web disdik jabar

6 Komentar untuk "KETIKA ALAMAT PALSU BUKAN HANYA MILIK AYU TINGTING"

  1. Ada 1 kk malah anaknya 15 orang..he he...aqyu suka ayu tink tink, eh maksudnya lagunya he he..tp nyambung jg dengan cerita ppdb ini ARE U THINK..THINK

    BalasHapus
  2. iyain ajalah biar seneng πŸ˜’

    BalasHapus
  3. Tambah sekolah Negeri dong...!✌πŸ˜†. Masak Mau Daftar sekolah Negeri saja susahnya minta ampyunnn....,kalau gini bisa bikin 'ngedrop semangat para siswa utk belajar, ujung ujungnya para emak2 lagi disalahin....haduhhh...,✌πŸ˜†pusinggg,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Kang, sepertinya emang jumlah sekolah negerinya kurang. di Bogor aja, smp ada 20-an, sma nya cm 10 kl gak salah. meskipun tetep sih, yg paling sulit ya ngilangin imej "favorit-favorit" itu. butuh kerjasama dr banyak pihak

      Hapus
    2. Atau tambah alamat alias beli rumah baru kah? Aaamiin YRA ....🀭🀭🀭🀭

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel