Kisah daunku

Setiap daun punya cerita....
Setelah menggeluti dunia ecoprint, membuat cara pandang saya terhadap tanaman berubah. Selama ini saya hanya menikmati indahnya tanaman tanpa tau apa namanya, di mana habitatnya, dari mana asalnya, bahkan kadang bagaimana merawatnyapun saya tidak terlalu perduli. Tetapi sekarang, semua berubah. Setiap kali melihat tanaman yang bentuk daun atau bunganya bagus, pikiran saya tak jauh jauh dari hasil ahir ecoprint saya. Bahkan ingin memilikinya, menanamnya di pekarangan rumah saya atau di taman komplek. Benar benar dampak ecoprint sangat luar biasa pada saya.

Seperti minggu lalu, entah mengapa mata saya menangkap sebatang pohon kastuba yang hampir mati diujung portal salah satu cluster komplek. Saya berhenti dan menyampiri satpam yang ada, “Pak, pohon ini ada yang merawat tidak yaa? Kok seperti ya sudah hampir mati,” kata saya... “Gak ada Bu, ibu mau.? Ambil aja, “ katanya.... “OK,Pak, saya ambil yaa...  terimakasih, “ kataku kegirangan.... Pulanglah saya dengan pohon Kastuba , dan segera ditanam di taman warga.... semoga subur dan indah yaa...

Berbekal ingin memenuhi kebutuhan daun daun , maka pekarangan rumah saya pun sudah ditumbuhi oleh tanaman yang bisa saya pakai untuk ecoprint, ada mangsi (buah tinta/tampal besi), acalypha hispida, acalypha wilkesiana, acalypha green/copperleaf green, strawberry, kopasanda/marenggo, antigonon/ air mata pengantin, bahkan indigo strobilanthes.....

Bila sebagian orang menilai, para ecoprinter akan menghabiskan daun daun yang indah, maka akan sangat berbalik keadaannya bila kita mau melihat lebih jauh.... karena banyak tanaman jadoel yang sangat cantik untuk ecoprint, sehingga menggeluti ecoprinting akan menyemarakkan kembali semangat menanam dan melestarikan tanaman yang hampir punah.

Mari kita mulai melestarikan “tanaman jadoel”.....

Belum ada Komentar untuk "Kisah daunku"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel